May 24, 2017

Ki Semar Sabda – Konsepsi Manunggaling Kawulo Gusti Dalam Segala Aspek Kehidupan Manusia

Siapa yang tidak kenal dengan Semar yang terkenal di belahan bumi ini yang sebenarnya adalah titisan dewa bernama Ismaya anak Sang Hyang Tunggal. Hanya saja, kebanyakan orang mengetahui atau mengenal Semar dalam tokoh pelaku humor atau tokoh dagelan di pewayangan baik wayang kulit maupun wayang orang. Yang mana peran semar ini memiliki peran sejarah yang unik dan mengesalkan karena mengikuti perjalanan tuan- tuannya yang memiliki sifat atau watak untuk selalu berbuat jahat dan murka.

Pekerjaan semar adalah mengingatkan tuannya tentang mana perbuatan itu benar dan mana perbuatan itu salah, kepiawaiannya adalah tidak lupa selalu melontarkan kritik, saran yang benar. Walaupun terkadang tuannya berjalan sekehendak hati menuruti nafsu manusianya tanpa pernah mematuhi anjuran-anjurannya juga tanpa memperdulikan akibatnya sehingga terjadi kekacau-balauan yang total luas mendalam. Alam dihajar ketidakseimbangan, situasi dan kondisi obyektif manusiawi dan kehidupan sarat dengan penyimpangan di segala sektor, di sektor alam misalnya terjadi banyak gempa bumi, gunung meletus, banjir dan sebagainya. Justru akan terjadi sebaliknya apabila anjuran-anjurannya dipatuhi dan dilaksanakan maka akan menyebabkan negara aman sentosa, rakyatnya tenteram terhindar dari musibah, murah sandang pangan.

Semar disamping pelaku humoris dengan kata lain salah satu sifatnya adalah suka menghibur, tetapi juga sebagai pengantar yang mempunyai fungsi penting yaitu mengasuh, mendidik para kesatria keturunan dewa dan tentunya ksatria yang diantarnya tentu jaya. Semar sebagai lambang ”rakyat” yang mempunyai watak kebaikan karena semar terkenal dengan kesabarannya, pengasih, menjaga kebenaran, tidak mau hal-hal yang angkara murka dan tidak pernah sedih.



Semar tadi juga mempunyai hal-hal yang tersembunyi dan mistik, yang bersifat rahasia maupun gaib karena menyamarkan tentang pandangan kehidupan jiwa (kerohanian), makanya tidak asing dipakai sebagai gambaran leluhur bagi orang jawa sehingga ia dijuluki dewa mangejawantah karena apa yang disabdakan (diucapkan) akan terjadi atau istilahnya tahu sebelum kejadian atau tahu apa yang akan terjadi (weruh sadurunge winarah). Dengan sifat, watak dan peran semar yang nampak tadi mengingatkan akan “lelaku”. Artinya, bahwa semua yang dilakukan bersandar kepada Tuhan secara murni dan mutlak, bisa dikatakan tidak berfikir akan keduniawian. Yang nantinya akan memasuki kedalam alam sejati atau kehidupan sejati ”wani mati sak jroning hurip“ (artinya berani mati di dalam hidup, jiwanya selalu hidup). Dari kehidupan yang sejati tersebut akan mencapai Kesempurnaan Hidup (Kasampurnaning Hurip) artinya “Manunggal” yang artinya menyatunya atau meleburnya antara cipta, rasa dan karsa mencapai kesatuan kembali dengan Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti) dengan kata lain, “Gusti iku dumunung ana jeneng sira pribadi”.

Keywords:

Ki Semar

Leave a Reply

*