September 21, 2017

Masih Perlukah Kekerasan Dalam Pendidikan

Berita kekerasan pada murid yang terbaru muncul dari salah satu SMP Negeri di kota dingin Lawang gaung beritanya sampai pada media cetak. Kebenarannya juga masih juga masih jadi jadi sebuah tanda Tanya. Tetapi guru yang dituduh melakukan kekerasan sudah terlanjur apatis dalam mengajar.

Di SMP Negeri yang lain masih di kota Lawang yang berhawa sejuk ini seorang murid ditempeleng guru matematikanya ketika dilapangan dan diulangi ketika akan masuk ruangan kelas. Meskipun tidak masuk berita seurat kabar tetapi orangtuanya sudah mengadukan ke Kantor Diknas Kabupaten Malang, karena tidak puas dengan tanggapan sekolah, apalagi jawaban guru killer tersebut tersebut “Saya yakin anak bapak akan lebih baik setelah ini, karena saya mendidik anak saya sampai jadi orang semua dengan cara ini.” (Mungkin yang dimaksud dengan cara keras). Dari dua kasus diatas inilah yang menggelitik penulis untuk mengangkat sebagai bahan renungan bersama.

Ada yang berpendapat bahwa dalam pendidikan anak ini ada pergerseran penangannya. Ada orang tua yang berhasil menangani anaknya dengan cara kekerasan seperti guru “killer” tersebut diatas. Tetapi tidak sedikit anak-anak yang lari kedunia luar karena kekerasan. Yang pasti sekarang ini ada suatu wadah yang namanya Perlidungan Hak Anak. Organisasi ini sangat intents terhadap anak-anak. Upaya ini harus kita hargai karena tidak sedikit para orangtua yang tidak peduli terhadap masa depan anak anaknya. Pergerseran itu pasti terjadi seiring dengan berkembangnya jaman. Ibu-ibu lebih pintar dan mengerti tentang gizi anak anaknya sejak adanya PKK dikampungnya. Anak anak tidak lagi bermain tali, conglak, gobak sodor, jentik, karet gelang, umbul dan mandi di kali, karena anak anak sudah punya playstation.

Generasi penulis ini memang berada diantara dua dunia anak yang berbeda. Orangtua kita yang kental dengan pendidikan kolonial Belanda cenderung menggunakan kekerasan dalam mendidik anak. Sedangkan ketika kita jadi bapak, anak tidak lagi merasakan yang namanya kekerasan. Kita bias menengok guru ngaji dikampung, jika masih menggunakan kekerasan seperti jaman dulu maka santrinya pasti akan habis. Ibu ibu yang dapat ilmu dari PKK dan membaca buku buku tentang pendidikan anak akan marah besar jika anaknya dipukul, apalagi ditempeleng meskipun itu bapaknya sendiri.



Artinya sekarang ini mendidik anak sudah tidak diperlukan kekerasan, tetapi ada pendekatan yang berbekal kasih saying. Mendidik tidak lagi memukul, tetapi menyentuh. Sentuhan yang berkesan adalah sentuhan hati. Dengan memukul yang tersakiti adalah2 bagian yaitu fisik dan hati. Tetapi sentuhan hati dengan kasih saying akan dapat memperbaiki keduanya (fisik dan hati). Ingat pesan rasulluah SAW “Didalam tubuh kamu terdapat segumpal daging yang apabila daging itu baik, maka baiklah semuanya. Dialah hati.” Mari kita anak anak kita dengan hati untuk menyentuh hatinya dengan kasih sayang yang dalam bahasa agamanya “rohman rohim.”

Pendahulu kita juga mengingatkan kita baik baik, misalnya “Suro diro jayoningrat lebur dening Pangastuti”. Inilah bekal bagi kita semua yang mendapat amanah dari Allah SWT berupa anak anak kita. Tidak ada satupun kajian pendidikan tentang anak yang merekomendasikan kekerasan terhadap anak. Bahasa dan perilaku kekerasan sudah ditutup disemua lini kehidupan bangsa kita yang bermartabat ini. Kita lihat kekerasan dalam rumah tanggapun ada pasal yang berdampak hokum kepada pelaku, kekarasan di masyarakatpun demikian juga.

Sebagai penutup, saya tidak bermaksud menghakimi dua kasus kekerasan di dua sekolah tersebut daiats. Karena setiap masalah harus dicari akar permasalahannya, sehingga kita tidak mudah dan tiba tiba menyalahkan seseorang. Tulisan sekedar sumbangsih penulis terhadap dunia pendidikan dalam mencetak kader bangsa, sekaligus ucapan selamat kepada pimpinan beserta redaksi MEDIA PENDIDIKAN terbit perdananya teriring doa “SEMOGA MAJU DAN BERKEMBANG BERSAMA PARA PENDIDIK DIBUMI MALANG RAYA.” Amien ! SUDJIONO, ST. Pemerhati Sosial.

Leave a Reply

*