January 24, 2017

Pelatihan Pembelajaran IPA Untuk 40 Guru di Lawang

Sebagai bentuk perhatian dalam bidang pendidikan umumnya dan pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam khususnya, juga keinginan untuk terus memperat tali per sahabatan diantara sekolah-sekolah yang ada di Kecamatan Lawang, Sekolah Dasar “Ummu Aiman” Lawang menggelar acara Pelatihan Tingkat Provinsi Pembelajaran IPA tanggal 1 – 3 Desember 2008 di Gedung BAPELKES Murnajati Lawang. Acara Pelatihan Pembelajaran IPA yang digelar selama tiga hari itu adalah hasil kerjasama antara SD Ummu Aiman Lawang dengan Konsorsium Pendidikan Islam (KPI) dan Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya dalam keinginan untuk memberikan sumbangan berupa ilmu. Tiga orang trainer didatangkan dari KPI masing-masing terdiri dari 2 orang trainer yang sebagai tenaga pengajar dari SD Al Hikmah Surabaya dan seorang trainer yang berasal dari MIN 1 Malang. “Kami dari KPI merupakan lembaga independent yang tanpa dinaungi oleh salah satu partai ataupun ormas lain, hanya berkeinginan untuk membantu memajukan sekolah-sekolah baik dalam bidang pengajaran, pembelajaran dan managemen”, dikatakan Drs. Abdul Halim wakil dari KPI pada sambutannya dalam acara pembukaan pelatihan IPA itu.

Hadir pula dalam acara Pembukaan Pelatihan tersebut adalah Pengawas Pendidikan UPTD Kecamatan Lawang yaitu Drs. Subandiyo yang menyatakan bahwa sangat terbantu oleh lembaga pendidikan seperti SD Ummu Aiman yang telah memberikan kontribusi kepedulian untuk memajukan pendidikan di Kecamatan Lawang. Dari sepanjang acara pelatihan ini, para trainer dari Konsorsium Pendidikan Islam Surabaya sebagai pemateri telah mampu menyuguhkan banyak hal yang dapat “menghilangkan rasa dahaga” para guru-guru di Lawang khususnya pada materi pelajaran IPA. Banyak hal yang baru yang mampu mem-up grade pengetahuan peserta pelatihan karena segarnya pengetahuan pula yang didapat dari para trainer tersebut. Sebutlah misconseption (miskonsepsi = kesalahan konsep) ternyata banyak hal-hal yang selama ini keliru dalam menyampaikan ke anak didik kita.

Dalam kegiatan tersebut juga disediakan sesi untuk presentasi dari masing-masing kelompok untuk berkreasi sambil membuat yel-yel kelompoknya, diskusi kelompok, mempraktekkan KIT IPA, dan memperagakan micro teaching di hari terakhir. Pada sesi micro teaching tersebut peserta diminta untuk memilih bahan materi dan media juga model pembelajaran yang mereka pilih sendiri berdasarkan teori-teori yang telah mereka dapatkan sebelumnya.

MoU

Ummu Aiman dan KPI Surabaya

Pada 23 November 2008 SD Ummu Aiman telah menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) kerjasama pelatihan dengan Konsorsium Pendidikan Islam Surabaya. Penandatanganan kerjasama ini berisikan tentang ketentuan-ketentuan untuk SD Ummu Aiman sebagai OC (organizatioin comitee) yang berlangsung sampai kontrak kerjasama yaitu selama 3 tahun ke depan. Adapun acara-acara pelatih an itu berlangsung setiap liburan semesteran sekolah selama 3 hari.

Ada sebagian guru yang mengeluh dan menimbukan kege lisahan setelah mengikuti SEQIP IPA karena ternyata tidak juga menjawab persoalan pembelajaran. Antara pelatihan pembelajaran dan praktik masih dipisah-pisah. Hal ini tentu saja tidak mendobrak pola pengajaran tradisional yang meng anggap anak semata-mata sebagai obyek didik.



Sebagai pendidik kita harus tertantang dengan untuk menerap kan model proses. Yakni model pembelajaran yang include (beriringan) dengan aktivitas siswa, dengan menggunakan alat peraga. Dengan konsep ini, bila misalnya seorang guru menerangkan konsep tentang air, maka harus ada aktivitas di air, secara berkelanjutan. Begitu juga ketika menerangkan tentang tata surya, guru harus memakai alat peraga yang pas hingga dari konsep tata surya, siswa bisa sekaligus memahami konsep tentang cahaya dan fotosintesis pada tumbuhan. Kenyataan yang logis-logis bisa diterima anak. Maka dengan model proses, seorang siswa tak lagi harus belajar lagi di rumah. Dengan model yang menyertakan alat peraga ini, anak didik diperlakukan lebih nyaman dan tak membingungkan. Kalau ulanganpun, siswa tak perlu ngoyo belajar, karena sudah paham lewat praktek. Terlalu sering menceramahi murid, apalagi tanpa ada upaya mendekatkan antara yang diterangkan di depan kelas dengan kenyataan sehari-hari, itu sama saja dengan mematikan kreatitivitas anak didik.

Jika di dalam kelas-kelas sekolah terjadi seperti ini “Horee… Aku bisa, Aku sudah selesai. ..ternyata hasilnya begitu…”. Begitu kira-kira teriakan kelompok-kelom pok siswa yang telah menyelesaikan praktek IPA saat itu. Suasana seperti itu terasa menyenangkan dan melegakan, baik bagi siswa maupun bagi guru. Dan tentu saja masih banyak ragam teriakan-teriakan siswa yang seolah-olah menunjuk kan ekspresi menyenangkan, memuaskan, mengasyikkan… Pertanyaannya adalah: “Apakah pembelajaran IPA yang kita lakukan selama ini suasananya sudah seperti itu?”. Selama ini yang banyak terjadi adalah pembelajran IPA yang pasif, suasana tegang, sepi dan membosankan. Hal ini dikarenakan pembe lajaran sains disampaikan berupa konsep-konsep dengan metode ceramah sehingga membuat siswa tidak menyenangi mata pelajaran IPA.

Pembelajaran sains dapat menyenangkan dan mengasyikkan jika guru menyampaikan pembela jaran dengan model-model pembe lajaran. Maka guru perlu menguasai berbagai model pembelajaran agar dalam penyampaian materi menye nangkan dan sesuai dengan karakteristik materi. Guru IPA/Kelas untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendu kung proses pembelajaran juga diharapkan dapat menyuguhkan konsep dan metode pembelajaran Sains/IPA dengan kesiapan meng uasai bahan ajarnya dengan berbagai model yang efektif bagi peningkatan motivasi belajar. Pembelajaran Sains bukan hanya MENGHAFAL konsep-konsep, tetapi harus MELAKUKAN sesuatu, dengan kata lain BUKAN HASIL YANG PENTING, tetapi PROSES akan menghasilkan HAL YANG PENTING.

Leave a Reply

*