July 24, 2017

Mengenang Kembali Hari Kebangkitan Nasional

Hampir dapat dipastikan, bahwa setiap tanggal 20 Mei kita semua akan memperingati hari Kebangkitan Nasional, akan tetapi apa yang dilakukan hanyalah sebatas acara seremonial saja. Kebangkitan nasional yang dilakukan para pendahulu adalah untuk menyikapi suasana yang di ciptakan pemerintah kolonial Belan da, dimana anak bangsa kurang memperoleh bahkan hampir tidak bisa menikmati pendidikan yang di selenggarakan pada waktu itu. Hanya mereka dari kalangan yang terhormat yang meliputi orang orang berduit dan kaum ningrat saja yang dapat mengikuti pendidikan sampai pada jenjang tertinggi yang diseleng garakan dinegeri Belanda.

Kesengajaan pemerintah kolonial Belanda dalam hal ini bukanlah tanpa alasan, akan tetapi memang mengandung unsur kese-ngajaan agar supaya bangsa Indo-nesia tetap menjadi bangsa yang bodoh dan ketinggalan zaman. Karena bagi mereka, menghadapi orang bodoh adalah lebih muda daripada menghadapi orang pintar. Dengan demikian pemerintah kolonial Belanda akan dapat meneruskan penjajahannya sampai masa yang sangat lama. Akan tetapi pemerintah kolo nial Belanda pada waktu itu lupa, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang mempunyai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta berkuasa atas segala sesuatu. Para pejuang kemerdekaan dan para ulama bersatu bersama-sama berjuang dan berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan kemerdekaan, terlepas dari segala belenggu penja jahan.

Nah, bertitik tolak dari pola pikir yang demikian itulah beberapa anak bangsa yang dimotori oleh Dr Wahidin Soediro Husodo mendiri kan perkumpulan yang diberi nama BOEDI OETOMO pada tanggal 20 Mei 1908 dengan misi untuk meng-angkat derajat anak bangsa. Tindak an yang dilakukan Dr Wahidin Soe-diro Hoesodo dan kawan kawan inilah yang kemudian disebut seba-gai Hari Kebangkitan Nasional. Kini setelah seratus satu tahun berjalan, apakah kemajuan yang diperoleh oleh bangsa Indone-sia ? Apakah bangsa Indonesia masih mempunyai semangat untuk bangkit kembali dari segala keterpu-rukan, sehingga tidak jauh tertinggal dari negara-negara lain ?

Pendidikan merupakan sa-lah satu media yang diperlukan guna mempersiapkan generasi penerus perjuangan bangsa. Dengan pendidikanlah bangsa ini bisa mempersiapkan calon calon pemimpin masa yang akan datang. Namun, apabila beaya pendidikan menjadi tak terjangkau oleh sebagi an besar anak bangsa, tentulah hal ini akan mengakibatkan generasi penerus perjuangan bangsa menja di generasi yang bodoh. Dimana akhirnya tongkat kepemimpinan bangsa ini akan beralih kepada bangsa lain yang hidup dinegeri ini. Masih segar dalam ingatan ketika terjadi resesi ekonomi pada tahun 1998, dimana para konglome-rat terkapar tidak berdaya mengha dapi krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Akan tetapi Tuhan tetap memberikan perlindungan kepada pelaku ekonomi kerakyatan yang notabene adalah para pedagang kecil yang berada dipasar-pasar tradisional, mereka tetap tegar dan berjaya.



Oleh karenanya, dengan mengingat tindakan Dr Wahidin Soediro Hoesodo dan kawan kawan mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo, maka sudah saatnya anak bangsa mengambil tindakan yang sama untuk bangkit kembali dengan mengedepankan kepentingan nasio nal sebagaimana telah diamanatkan para pendiri negara di dalam alinea ke-4 pembukaan UUD 1945, dimana salah satunya adalah men-cerdaskan kehidupan bangsa.

Reformasi yang digulirkan juga telah mengamanatkan adanya kewajiban pemerintah untuk meng-alokasikan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Akan tetapi kecenderung-an pemegang kekuasaan selalu ingin mengingkari amanat tersebut, dimana akhirnya berkat perjuangan pengurus PGRI seluruh Indonesia ketetapan alokasi anggaran pendi-dikan sebesar 20% tersebut baru dipenuhi setelah adanya putusan Mahkamah Konstitusi dan hasilnya sejak tahun 2009 ini pemerintah pusat telah mengalokasikannya di dalam APBN.
Keputusan Mahkamah Kon stitusi tersebut rupanya tidak diikuti oleh pemerintah daerah sampai hari ini, Menteri Dalam Negeri-pun telah mengganjalnya dengan mengeluar kan surat edaran No.973/2706/SJ tertanggal 8 September 2008 yang dijadikan alasan untuk tidak dapat mendukung kebijakan pemerintah dengan program sekolah gratis pada SD Negeri dan SMP Negeri melalui surat Mendiknas Nomor 186/MPN/KU/2008. Mengapa para pemerintah daerah merasa sulit melaksanakan amanat UUD 1945 yang diperkuat dengan putusan Mahkamah Konstitusi untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBD ?

Mengapa Mendagri menge-luarkan surat edaran yang meng-interprestasikan diluar kebijakan yang diatur dalam pasal 31 ayat (4) UUD 1945 dan pasal 49 ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional ? Marilah kita kenang kembali perbuatan Dr. Wahidin Soediro Hoe sodo pada tanggal 20 Mei 1908 dan kita ingatkan diri kita untuk berbuat bagi kepentingan bangsa dan negara yang tercinta, INDONESIA. Karena Tuhan selalu memberikan perlindungan kepada bangsa ini, ketika para penguasanya lebih mementingkan kepentingan pribadi atau golongannya. Marilah kita kembali kepada jatidiri bangsa, sebelum Tuhan bertindak sendiri mengembalikan kita untuk kembali. (Pimpinan Redaksi)

Comments

  1. Science Box says:

    ini adalah pelajaran yg paling berharga,
    jd inget wkt sekolah

  2. Bang Johan says:

    pendidikan semakin mahal. gmn neh pendapat agan??

  3. Didien® says:

    mungkin kebangkitan nasional lebih baik di lakukan setiap hari..biar selalu semangat…
    kunjungan balik dan salam kenal

    salam, ^_^

  4. Caride™ says:

    tulisan yg inspiratif sekali..
    terimakasih

  5. d-Gadget™ says:

    di negeri kita memang sudah klasik jika hari² peringatan nasional hanya sebatas seremonial saja..

  6. Kuker™ says:

    kunjungan perdana, ikut membaca tulisan yg sangat menginspirasi kita semua

  7. Rhyzaboy says:

    akan kukenang terus perjuanganmu wahai pahlawanku…

  8. Mang Umarr says:

    siip, siip.
    akan ku kenang terus jasa para pahlawan yang telang berjuang dulu di masa penjajahan..

  9. lyna riyanto says:

    Selamat Hari Kebangkitan Nasional
    dan sebaiknya merasakan dan melaksanakan makna kebangkitan itu menjadi kebangkitan jiwa, pemikiran dan cita-cita yang lebih baik.

Leave a Reply

*