January 21, 2017

Mengenal Lebih Dekat Soekantono

Bagi masyarakat dunia pendidikan khususnya di Kabupaten Malang tentunya tidak asing dengan nama Soekantono, seorang pensiunan guru sekolah dasar yang sampai saat ini tetap beraktivitas untuk rekan sejawat-nya sesama pensiunan pegawai negeri.

Pada masa mudanya, keti-ka beliau masih mengajar di seko lah dasar terlihat selalu energik dan penuh semangat untuk dapat me ngantar murid muridnya mencapai ranking tertinggi dalam setiap mata pelajarannya. Demikian juga, karena beliau juga adalah menantu seorang kepala sekolah SD maka sudah barang tentu beliau akan selalu tampil dengan penuh sema-ngat dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru, walau hanya seorang guru sekolah dasar.

Saat ini Soekantono aktif dalam mengurusi rekan sejawatnya sesama pensiunan pegawai negeri yang tergabung dalam Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI), khususnya yang berada di Kecamatan Lawang. Beliau ini lebih banyak mengisi waktu senggang dengan mengadakan berbagai aktivitas, dalam mengurusi sesama pensiunan di PWRI yang berkantor di Jalan Thamrin Nomor 2, Lawang (lihat gambar bawah), beliau juga aktif dalam rombongan orkes keron cong bersama anggota masyarakat lainnya di kelurahan Kalirejo.

“Dalam mengisi hari tua ini, tak perlu aktivitas yang memberat kan badan. Soalnya badan ini sudah tua dan ringkih, jadi aktif dibidang yang dapat diurusi dengan santai. Salah satunya orkes keroncong.” Katanya pada wartawan MP. Dalam prinsip menjalani kehidupan ini, beliau mengatakan bahwa kehidupan manusia itu se-perti bulan yaitu mulai tampak kecil (bayi), menjadi besar (dewasa) dan akhirnya kecil lagi (tua) lalu …….. kembali keasalnya, yaitu Tuhan semesta alam.

Terkadang masa tua bagi sebagian orang yang tidak siap, merupakan “hukuman” yang paling berat, karena :
1. Bagi seorang karyawan dalam segala tingkatan, mereka akan merasa kehilangan jabatan dan harga diri merosot dalam panda-ngan masyarakat.
2. Harus mengencangkan ikat ping gang dalam mengarungi hidup, karena penghasilan pensiunan kan kecil.
3. Merasa tersingkir dari pergaulan, karena tidak dihormati dan dila-yani lagi sebagaimana ketika masih menjabat.



Akan tetapi kalau bisa me-nyadari dan menerima kodrat dan tidak terlalu banyak berharap, meng hayal yang bukan-bukan, maka kehidupan hati tua untuk menikmati masa pensiun akan menjadi surga tersendiri. Beberapa faktor yang harus diterima oleh para wreda adalah 8 B yaitu Botak, Bingung, Blereng (mata kabur), Budheg (tuli), Bungkuk, Beser (sering kencing), mBisu dan Bawel.

Oleh karenanya seringkali para wreda ini mengeluh tentang kehidupan karena munculnya faktor 8B tersebut, selain masalah pengha silan pensiunan yang masih minim. Demikian juga masalah keluarga yang mengalami perubahan. Bagi Soekantono, konsep keterbukaan dalam berkomunikasi dengan keluarga, rekan sejawat dan masyarakat pada umumnya akan mengurangi beban pikiran yang pada akhirnya akan mempercepat timbulnya faktor 8 B tersebut.

Kesibukan lain yang dilaku-kan Soekantono adalah mengikuti Yayasan Gerontologi “ABIYOSO” yang khusus beranggotakan para manula. Melalui yayasan inilah semua informasi tentang konsep pembinaan usia lanjut ditekuninya agar dapat mengambil hikmah dan manfaat dalam menjalani kehidupan sebagai manusia lanjut usia (LANSIA). Berbicara masalah pendidik an, beliau masih sangat antusias dan bersemangat. Beliau berjanji pada redaksi MP akan mengirim hasil pemikirannya dalam bebagai permasalahan pendidikan yang ada ditanah air. “Pokoknya dengan adanya tabloid MEDIA PENDIDIKAN ini saya akan berusaha untuk menulis lagi demi untuk kemajuan pendi-dikan ditanah air. Apalagi pimpinan redaksinya kan masih mantan murid saya di sekolah dasar dulu.” sambungnya kepada MP. Akhirnya hanya doa agar beliau dan seluruh wredatama yang ada mendapatkan rakhmat dan inayah dari Allah, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Semoga ! (Nung-Ried/MP)

Leave a Reply

*