May 24, 2017

Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2010 Bidang Pendidikan

Dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pendidikan yang telah dilaksanakan sampai saat ini telah berhasil meningkatkan taraf pendidikan penduduk Indonesia yang antara lain ditunjukkan oleh meningkatnya rata-rata lama sekolah yang mencapai 7,47 tahun (2007), dan meningkatnya angka melek aksara penduduk usia 15-24 tahun yang mencapai 98,84 persen. Di samping itu, sampai tahun 2008 telah terjadi peningkatan partisipasi pendidikan di semua jenjang pendidikan. Angka parti sipasi murni (APM) dan angka partisipasi kasar (APK) jenjang SD/MI/sederajat telah mencapai masingmasing 95,14 persen dan 116,56 persen; APK pada jenjang SMP/MTs/sederajat telah mencapai 96,18 persen; dan APK pada jenjang pendidikan menengah 64,28 persen, serta APK pendidikan tinggi mencapai 18,29 persen yang berhasil melampaui target tahun 2009.

Salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi pendi dikan adalah disediakannya pelayanan pendidikan non formal termasuk melalui pendidikan kesetaraan Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA terutama untuk menampung anak-anak yang putus sekolah dan mereka yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal. Kemajuan lain yang monumental adalah dalam hal peningkatan keadilan dan kesetaraan gender dalam hal akses terhadap pelayanan pendidikan yang ditun jukkan oleh indeks paritas gender APM atau APK yang sudah mencapai angka sekitar 1,0 untuk semua jenjang pendidikan.

Untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan, juga telah dilakukan antara lain peningkatan kualitas pendidik yang ditunjukkan dengan pemenuhan kualifikasi S1/D4 mencapai 47,04 persen dan sertifikasi pendidikan mencapai 15,19 persen. Untuk mendorong kinerja guru, kesejahteraan guru juga terus ditingkatkan antara lain melalui penyediaan tunjangan profesi, tunjangan fungsional bagi guru PNS dan subsidi tunjangan fungsional bagi guru Non-PNS, serta tunjangan khusus untuk guru yang mengajar di daerah terpencil. Dengan berbagai kebijakan yang dilakukan, penghasilan guru PNS minimal pada tahun 2009 mencapai Rp. 2,0 juta. Untuk mendukung pemba ngunan pendidikan yang lebih baik, anggaran pendidikan juga terus ditingkatkan sehingga pada tahun 2009 anggaran pendidikan sudah memenuhi amanat amandemen UUD 1945 yang mencapai sebesar 20 persen dari APBN, atau sebesar Rp. 207,4 trilyun yang dialokasikan melalui Belanja Pemerintah Pusat dan Transfer Daerah.



Sasaran yang akan dicapai pembangunan di bidang pendidikan meliputi: (1) meningkatnya akses dan pemerataan akses pendidikan dasar yang berkualitas bagi semua anak usia 7-15 tahun yang ditandai dengan meningkatnya APM dan APK SD/MI/sederajat masing-masing menjadi 95,27 persen dan 117,15 persen; APK SMP/MTs /sederajat menjadi 99,26 persen; APS penduduk usia 7-12 tahun menjadi 98,42 persen; APS penduduk usia 13-15 tahun menjadi 90,69 persen; rasio APS penduduk usia 7-12 yang berasal dari 20 persen kelompok termiskin ter hadap APS penduduk yang berasal dari 20 persen kelompok terkaya (Q1:Q5) menjadi 0,98; rasio Q1:Q5 APS penduduk usia 13-15 yang menjadi 0,85; terjaganya indeks paritas gender APS 7-12 dan APS 13-15 menjadi sekitar 1,0; (2) meningkatnya efisiensi internal pendidikan dasar yang ditandai dengan: menurunnya angka putus sekolah jenjang SD/MI menjadi 1,41 persen dan jenjang SMP/MTs menjadi 2,07 persen; menurunnya angka mengulang kelas jenjang SD/MI menjadi 2,61 persen dan jenjang SMP/MTs menjadi 0,38 persen; dan meningkatnya angka melanjutkan lulusan SD/MI/ sederajat ke SMP/MTs/sederajat menjadi 91,38 persen; (3) mening katnya kualitas satuan pendidikan dasar yang ditandai dengan meningkatnya persentase SD/MI yang terakreditasi minimal B menjadi 55 persen dan persentase SMP/MTs menjadi 22 persen; (4) meningkatnya kualitas hasil belajar jenjang pendidikan dasar yang ditandai dengan meningkatnya rata-rata nilai ujian nasional di tingkat SMP/MTs menjadi 7,05; (5) meningkatnya akses terhadap pendidikan menengah yang ditan dai dengan meningkatnya APK SMA/SMK/MA/sederajat menjadi 71,3 persen; APS penduduk usia 16-18 tahun menjadi 79,28 persen; dan terjaganya indeks paritas gender APS 16-18 tahun menjadi sekitar 1,0; (6) meningkatnya efisiensi internal pendidikan menengah yang ditandai dengan menurunnya angka putus sekolah jenjang SMA/SMK/MA menjadi 2,04 persen dan menurunnya angka mengulang kelas jenjang SMA/SMK/MA menjadi 0,42 persen; (7) meningkatnya kualitas SMA/ SMK/MA yang ditandai dengan meningkatnya persentase SMA/ SMK/MA/sedarajat yang berakre ditasi minimal B menjadi 55 persen; (8) meningkatnya kualitas hasil belajar jenjang pendidikan menengah yang ditandai dengan meningkatnya rata-rata nilai ujian nasional di tingkat SMA/SMK/MA menjadi 7,75; (9) meningkatnya akses terhadap pendidikan tinggi ; (10) meningkatnya kualitas pendidikan tinggi yang antara lain ditandai dengan meningkatnya persentase satuan pendidikan tinggi terakreditasi menjadi 29,8 persen; meningkatnya jumlah dosen yang menenuhi kualifikasi akademik S2 dan S3, meningkatnya jumlah dosen yang melakukan publikasi, baik tingkat nasional dan juga internasional; (11) meningkatnya partisipasi pendidikan anak usia dini yang ditandai dengan APK pendidikan anak usia dini mencapai 57,80 persen; (12) membaiknya tingkat keaksaraan penduduk ; (13) meningkatnya proporsi pendidik yang memenuhi kualifikasi pendidikan dan standar kompetensi yang disyaratkan, serta meningkatnya kesejahteraan pendidik. (MD/MP)

Leave a Reply

*