January 24, 2017

Universitas Kanjuruhan Malang Gelar Wayang Kulit

Ada yang berbeda dalam acara Wisuda Sarjana Universitas Kanjuruhan Malang yang digelar pada beberapa waktu yang lalu. Pada rangkaian prosesi wisuda tersebut menampilkan symbol kerajaan tertua di Malang ini. Diawali dengan penyerahan we wenang untuk membuka dan menutup acara wisuda oleh Rektor UK Drs. H.M Amir Sutedjo selaku “Raja Kanjuruhan”. Sang Raja datang dengan dikawal oleh para prajurit dengan membawa panji-panji yang akan dikibarkan di panggung.

Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP-PT) Universitas Kanjuruhan (UK) Drs.H Soenarto, Dd, SH, Msi kepada Media Pendidikan, bahwa Universitas Kanjuruhan tetap sangat komitmen untuk tetap melestarikan nilai-nilai luhur budaya dan persatuan bangsa.

“ Dalam nilai budaya luhur bangsa kita banyak mengandung ajaran budi pekerti” ungkapnya menegaskan. Menurutnya saat ini generasi muda pada umunya dan wisudawan UK pada khususnya ditengah era globalisasi saat ini sangat perlu dibekali dengan budi pekerti. Hal ini telah diupayakan oleh Universitas Kanjuruhan yang memberikan materi khusus budi pekerti kepada mahasiswanya.
Ditambahkan lagi bahwa UK sebagai kampus Multikultrural yang telah diresmikan langsung oleh Dirjen Dikti dr. Fashli Jalal (13/6) 2008 lalu, berusaha untuk muara dan melestarikan warisan budaya Bangsa Indonesia yang beragam.

Hal tersebut dilakukan salah satunya dengan menggelar kesenian tradisional wayang kulit pada acara resmi kampus. Pada pagelaran ini mendatangkan dalang kondang Ki.H. Anom Suroto dan Ki Bayu Aji, dengan lakon “Mbangun Candi Saptoharga”. Sebagaimana dimaksudkan agar nilai-nilai luhur dan nasehat yang tekandung dalam cerita pewayangan tersebut bisa disimak dan diambil manfaatnya. Baik oleh civitas akademika mau pun oleh masyarakat umum yang menyaksikannya.



Adapun cerita yang diambil adalah ketika Pandhawa membangun candi Saptoharga. Disitu ditemukan suatu keanehan yaitu bangunan selalu roboh ketika hampir selesai. Menyaksikan hal tersebut Prabu Kresna menyaran kan agar Pandhawa membawa surat jimat kalimasada selama membangun candi. Namun ternyata bahwa jimat Kalimasada telah hilang dari Amarta karena dicuri oleh Dewi Mustakaweni dari negeri Manimantaka. Atas kejadian ini dicarilah salah seorang satria yang ada dinegeri Ngamarta, kemudian muncul kesanggupan dari Bambang Priyambada anak dari Arjuna yang akan mencari dan mengembalikan Jimat Kalimasada yang telah dicuri oleh Dewi Mustakaweni. Dengan cara menggelar wayang kulit pada acara seremonial yang megah, tindakan Rektor Universitas Kanjuruhan patut mendapat acungan jempol karena hal ini merupakan wujud nyata kecintaan kepada tanah air dengan cara melestarikan budaya bangsa. (Singgih/MP)

Leave a Reply

*