September 21, 2017

Pandhawa Lima Simbol Budaya Islam di Jawa

Indonesia yang sejak dahulu lebih dikenal dengan nama Nusantara terkenal dengan banyaknya ragam budaya yang mengakar di masyarakat, terutama budaya yang berhubungan dengan kekuasaan Sang Pencipta. Wayang merupakan salah satu hasil karya budaya yang sampai saat ini masih ada dan sangat dirasakan kehadirannya bagi orang Jawa, apakah bagi mereka yang beragama Islam ataupun mereka yang menganut faham kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Walaupun sebenarnya wayang aslinya adalah hasil karya seorang resi di India, akan tetapi yang satu sangat dirasakan sepertinya milik bangsa Indonesia sendiri. Peranan Wali Songo di dalam mempolulerkan budaya wayang sungguh sangat luar biasa, lakon wayang dibuat sebagai media komunikasi untuk mengajarkan ajaran Islam dengan cara yang amat bijaksana dan mengena pada sasaran dan tujuan dari dakwah yang dilakukan.

Sebagai contoh lakon lakon yang berhasil dibuat oleh para wali dan penerusnya adalah Wahyu Makutoromo, Dewa Ruci dan sebagainya. Dalam membangun karakter bangsa di bidang kerohanian, maka wayang dipakai para wali sebagai suatu alat atau media komunikasi yang sangat menguntungkan. Sebagai suatu ilusterasi kita lihat pandhawa lima yang disimbolkan dan disesuaikan dengan beberapa hal yang berhubungan dengan ajaran Islam.

Pertama, Yudhistira atau Puntadewa yang merupakan pembarep pandhawa diibaratkan sebagai simbol ketauhidan, sehingga dirinya disebut memiliki senjata yang sangat ampuh yaitu jamus kalimusodho. Senjata ini hanya merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh manusia, yaitu kalimah syahadah yang merupakan wujud kesaksian akan adanya Allah dan Rasulnya yang berbunyi aku ber saksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Yudhistira atau Puntadewa ini disimbolkan sebagai satria berdarah putih yang merupakan perwujudan tauhid kepada Tuhan YME.

Kedua, Werkudara atau Bima yang merupakan panegak pandhawa adalah seorang yang dikenal dengan watak keras, bicaranya kasar kepada siapa saja (ngoko,jw) akan tetapi hatinya sebenarnya sangat halus. Werkudara atau Bima disimbolkan atau diibaratkan sebagai shalat, yang pelaksanaannya harus seperti dirinya ketika bertemu dengan Dewa Ruci, berbicara dengan halus (kromo inggil). Dengan shalat orang akan mengenal jati dirinya sendiri dan juga mengenal Allah.



Ketiga, Harjuno atau Janaka yang disebut juga panengahing pandhawa. Satria yang digambarkan sering bertapa dengan menahan diri dari keinginan hawa nafsu ini disimbolkan sebagai perilaku manusia yang sedang puasa. Gambaran sebagai satria yang sering mendapat wahyu ini merupakan perwujudan manusia yang sering mendapat petunjuk karena melakukan puasa dibulan ramadhan, bisa juga diartikan mendapat pahala “lailatu qadr”.

Sedangkan yang keempat dan kelima adalah saudara kembar yang bernama Nakula dan Sadewa yang disimbolkan dengan Zakat dan Haji. Sebagian cerita melukiskan kedua saudara kembar ini sangat mendapatkan perhatian penuh dari ketiga saudaranya karena merupakan anak yatim piatu, oleh karena itu keduanya merupakan pengingat kepada kita bila mempunyai kelebihan rejeki untuk menunaikan zakat dan haji yang memang membutuh kan harta benda dan keberanian untuk bertindak.

Demikian pandainya wali songo merangkum lakon wayang untuk menyampaikan pesan moral kepada orang Jawa pada saat itu, sehingga banyak orang Jawa yang dahulunya beragama Hindu atau Budha beralih menjadi Islam. Peninggalan metode komunikasi yang digunakan para wali tersebut digunakan secara turun temurun dari waktu ke waktu sampai saat ini. Kemudian tanpa disadari metode tersebut ternyata merupakan suatu warisan budaya yang dapat dibanggakan.

Dalam kurun waktu ratusan tahun, lakon wayang yang dibuat oleh para wali tersebut ternyata lebih disukai orang Jawa daripada lakon aslinya sebagaimana yang ada di India. Isi ceriteranya diharga sebagai suatu pelajaran tasauf di berbagai daerah, sehingga kurang begitu dipahami oleh orang kebanyakan. Semoga apa yang diwariskan oleh para wali tadi akan dapat lebih bermanfaat bagi pembentukan karakter bangsa Indonesia dan juga dapat dilestarikan sebagai budaya adi luhung yang perlu disosialisasikan kepada generasi penerus bangsa ini.
(Ki Dalang)

Leave a Reply

*