February 24, 2017

Autis Is Not A Joke

asep & anak autis malang

*) Oleh Asep Suriaman, S.Psi.,

Setiap tanggal 2 April selalu kita peringati hari Autis Internasional. Sudahkah mereka merasakan pendidikan yang sama dengan anak-anak normal pada umumnya? Sebelum melangkah dan membahas lebih jauh lagi tentang pendidikan anak-anak autis, setidaknya kita pahami dulu apa autis itu dan apa pula penyebabnya.

Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Penyandang autisme seakan-akan hidup di dunianya sendiri. Istilah autisme diperkenalkan sejak tahun 1943 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan ini sudah ada sejak berabad-abad yang lampau.

Dahulu dikatakan autisme merupakan kelainan seumur hidup, tetapi kini ternyata autisme masa kanak-kanak ini dapat dikoreksi. Tata laksana koreksi harus dilakukan pada usia sedini mungkin, sebaiknya jangan melebihi usia 5 tahun karena di atas usia ini perkembangan otak anak akan sangan melambat. Usia paling ideal adalah 2-3 tahun, karena pada usia ini perkembangan otak anak berada pada tahap paling cepat.

Menurut Mudjito, autisme adalah anak yang mengalami gangguan berkomunikasi dan berinteraksi sosial serta mengalami gangguan sensoris, pola bermain dan emosi. Dapat disimpulkan bahwa autisme adalah gangguan perkembangan yang khususnya terjadi pada masa kanak-kanak yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

Faktor Penyebab Autisme
Sampai saat ini para ahli belum menentukan penyebab pasti mengapa seorang anak menjadi autisme. Beberapa ahli berpendapat autisme merupakan sindroma yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti:

a. Faktor genetik
diduga karena adanya kromosom (ditemukan 5-20% penyandang autisme) seperti kelainan kromosom yang disebut syndrome fragile-x/

b. Kelainan otak
adanya kerusakan atau berkurangnya jumlah sel syaraf yang disebut sel purkinye.

c. Kelainan Neurotransmitter
terjadi karena impuls listrik antar sel terganggu alirannya. Neurotransmitter yang diduga tersebut adalah serotine (kadarnya tinggi dalam darah ± 30% penyandang autisme) dan dopamine (diduga rendah kadar darahnya pada penyandang autisme)

d. Kelainan Peptida di otak
dalam keadaan normal, glutein (protein gandum) dan kasein (protein susu) dipecah dalam usus menjadi peptida dan asam amino. Sebagian kecil peptida tersebut diserap di usus dan kemudian beredar dalam darah. Bila berlebihan akan dikeluarkan melalui urin dan sebagian lainnya akan disaring kembali saat melewati batang otak sehingga yang masuk ke dalam otak hanya sedikit (khususnya gliadorphin, turunan peptida glutein dan casomordophin turunan pepsida kasein).



e. Komplikasi saat hamil dan persalinan
komplikasi yang terjadi seperti pendarahan pada trimester pertama yaitu janin yang disertai terpisahnya cairan ketuban yang bercampur feses dan obat-obatan yang diminum ibu selama masa kehamilan.

f. Kekebalan tubuh.
Terjadi karena kemungkinan adanya interaksi gangguan kekebalan tubuh (autoimun) dengan faktor lingkungan yang menyebabkan autisme.

g. keracunan
keracunan yang banyak dicurigai adalah karena keracunan logam berat timah hitam (Plumbun), arsen, antimony, cadmium, dan merkuri yang berasal dari polusi udara, air ataupun makanan.

Banyak orangtua siswa autis yang bingung, ke sekolah mana seharusnya anak menempuh pendidikan, karena sekarang masih sulit mendapatkan pelayanan pendidikan untuk anak anak yang menyandang autis, khususnya di kabupaten Malang. Karena di kabupaten Malang setahu saya minim sekali lembaga pendidikan yang memfokuskan pelayanan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus seperti autis ini. Di kabupaten Malang juga sangat minim sekolah inklusi untuk anak-anak seperti ini. Padahal di sekolah inklusi orangtua dapat mempertimbangkan modifikasi alokasi waktu, materi pelajaran, serta proses pembelajaran yang dimiliki sekolah tersebut.

Selanjutnya, yang terpenting orangtua dan guru harus terus berinteraksi tentang perkembangan anak dalam semua hal, di sekolah dan di rumah, agar perkembangan mereka terus terpantau. Dan yang terpenting lagi anak-anak autis jangan sampai di olok-olok oleh teman sebayanya. Semoga Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pendidikan bisa memberikan pelayanan pendidikan dan membuka sekolah inklusi di tiap-tiap kecamatan agar terwujud visi misi kabupaten yang MADEP MANTEB. Kalau kita mau menggali potensi dan bakat anak-anak autis, kelebihan mereka bias mengalahkan anak-anak normal pada umumnya. Bukannya banyak tokoh dunia yang terlahir Autis. Seperti Albert Einstent misalnya. Dan masih banyak contoh lainnya. SELAMAT HARI AUTIS INTERNASIONAL. AUTIS IS NOT A JOKE.

*) Penulis, Pemerhati Autisma Malang. Direktur PADASUKA (Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak)

Leave a Reply

*